[Toko Makmur Sentosa] | [tutup]
PASAR HOLISTIK: MAKNA PERSAHABATAN

Senin, 30 September 2013

MAKNA PERSAHABATAN


Bayangkan jika anda adalah seorang wanita cantik seperti Agnes Monica :-) kemudian ada seorang pria lusuh dengan wajah pas‑pasan (katakanlah seperti Tukul :-) misalnya) yang mengajak anda untuk berkenalan dan menjadi sahabat, bagaimana reaksi anda? Kebanyakan pasti akan menolak atau tidak mau, tapi akan lain halnya jika yang mengajak kenalan adalah seorang pria yang wajahnya tampan seperti Farhan.
Itulah fenomena yang sering terjadi dalam masyarakat kita saat ini. Jika seseorang kaya, cantik/tampan, berpengaruh dan punya kekuasaan akan enggan untuk berhubungan dengan seseorang yang miskin apalagi jelek rupanya.
Ada sebuah kisah, di suatu kota seorang anak laki‑laki kecil berkulit hitam terus saja memperhatikan seorang pejual balon di sebuah tempat keramaian di tengah kota. Orang tersebut nampak seperti pedagang yang baik hati karena melepaskan beberapa balon untuk menarik perhatian orang banyak agar membeli balonnya. Dia melepaskan sebuah balon warna merah, membiarkan balon itu untuk perlahan-lahan membumbung tinggi ke angkasa.

Tak lama kemudian dia kembali melepaskan sebuah balon, namun kali ini yang berwarna biru, berselang beberapa lama ia melepaskan balon yang berwama kuning lalu balon yang berwarna hijau dan yang putih. Semua balon yang dilepaskannya naik membumbung tinggi ke angkasa sampai akhirnya, lenyap dari pandangan mata.
Sementara itu, anak lelaki kecil itu terus memandangi balon berwarna hitam sampai akhirnya bertanya: "Pak, kalau balon yang berwama hitam itu dilepaskan, apakah dia  juga dapat naik membumbung tinggi sama seperti balon‑balon yang lain ?"
Penjual balon tersenyum penuh pengertian. la segera memutuskan tali benang yang mengikat balon hitam itu dan perlahan‑lahan balon itupun naik membumbung tinggi ke angkasa. Dengan ramah penjual balon berkata, "nak, bukan warnanya, melainkan apa yang ada di dalamnyalah yang membuat ia naik. "
Pesan yang kita dapatkan dari cerita diatas adalah, 'janganlah kita menilai seseorang dari penampilannya, tetapi nilailah dia berdasar apa yang ada di hatinya'. Dalam ajaran sang Buddha, sering kita mendengar bahwa segala sesuatu adalah tidak kekal (anicca). Semua apa yang ada (perpaduan dari unsur‑unsur) pasti akan berubah.
Kekayaan, kecantikan/keindahan, kekuasaan dan segala bentuk keduniawian akan berubah, tidak kekal. Jadi, mengapa kita menjadi sombong, merasa lebih baik dan berbangga hati hanya karena memiliki kelebihan yang bersifat fisik atau berkuasa dan memiliki harta yang berlimpah ? Semua itu hanyalah sementara. Oleh karena itu dalam pergaulan sehari‑hari hendaknya kita tidak membeda‑bedakan dalam memilih sahabat. Janganlah hanya karena ia cantik/tampan, mempunyai harta dan kekuasaan lalu kita mau bersahabat dengannya. Namun jika sebaliknya, miskin, jelek atau bahkan cacat kita enggan untuk berteman.
Dalam berteman sang Buddha mengajarkan pentingnya kalyanamita, yaitu sahabat yang baik, bermoral, setia, toleran, cerdik, berpengetahuan, dan bisa menolong, kita menuju jalan kebenaran sehingga terbebas dari kejahatan. Sahabat yang baik tidak harus kaya dan berkuasa atau cantik/tampan sekalipun namun bila ia adalah seseorang yang mempunyai kriteria seperti yang disebutkan oleh sang Buddha maka dialah sahabat sejati.
Memang menjadi lebih baik apabila kita berteman dengan orang yang lebih bijaksana, tapi hendaknya kita juga, memahami bahwa orang yang masih kurang dalam hal kebijaksanaanya pun harus kita bantu agar menjadi lebih berkembang dan menemukan jalan kebenaran bagi dirinya. Pupuklah persaudaraan dengan semua umat manusia, karena dalam kehidupan ini kita semua adalah saudara dalam lautan samsara. Jadi janganlah membedakan persaudaraan hanya karena status sosial, warna kulit ataupun kelebihan fisik lainnya. Marilah kita menilai seseorang bukan dari apa yang tampak luarnya melainkan apa yang ada didalam hatinya. Salam kasih dan damai dalam Dhamma.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar