[Toko Makmur Sentosa] | [tutup]
PASAR HOLISTIK: 8 Kebohongan IBU

Rabu, 30 Oktober 2013

8 Kebohongan IBU

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan Ibu sering memberiku bagian nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, Ibu berkata : “Makanlah nak, aku tidak lapar” ---KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA.
Ketika aku mulai tumbuh dewasa, Ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, Ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia dapat memberikan sedikit makanan bergisi untuk pertumbuhan. Sepulang memancing Ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, Ibu duduk di samping kami dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang-tulang ikan bekas kami makan itu. Aku melihat Ibu seperti itu, hatiku tersentuh juga, lalu menggunakan sendokku dan memberikannya kepada Ibuku. Tetapi Ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan” ---KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA.

Sekarang aku sudah masuk sekolah menengah, demi membiayai sekolah 2 kakakku dan aku, Ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah korek api gas untuk ditempeli stiker dan dari hasil kerja itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat Ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel korek api gas. Aku berkata : “Ibu, tidurlah, sudah malam, besok pagi Ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata : “Cepatlah tidur nak, aku tidak capek” ---KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA.
Ketika ujian tiba, Ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, Ibu yang gigih menungguku di bawah terik m
atahari selama beberapa jam. Ketika lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan the yang sudah disiapkan dalam botol dingin untukku. Teh yang begitu manis dan harum, tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayangnya yang lebih manis dan harum. Melihat Ibu dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku dan menyuruh Ibu minum. Ibu berkata : “Minumlah nak, aku tida haus” ---KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT.
Setelah kepergian Ayah karena sakit, Ibu yang malang harus merangkap sebagai Ayah dan Ibu. Dengan berpegang pada pekerjaannya yang dulu, Ibu membiayai keperluan keluarga, dan kehidupanpun semakin susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Ada seorang paman dekat rumah yang sering membantu pada setiap masalah dan dia menasehati Ibu untuk menikah lagi agar hidupnya tidak begitu sengsara. Tapi Ibu tidak mengindahkan nasehat itu dan berkata : “Saya tidak butuh cinta” ---KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA.
Setelah aku dan ke dua kakakku tamat sekolah dan bekerja, Ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi Ibu tidak mau, dan ia pergi kepasar setiap hari berjualan sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakak-kakakku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk memenuhi keperluan Ibu, tapi Ibu berkeras tidak mau menerima dan malah mengirim balik uang itu. Ibu Berkata : “Saya masih ada uang” ---KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM.
Setelah selesai kuliah, aku pun melanjutkan studi di program master dan memperoleh gelar master dari sebuah universitas di Amerika berkat bantuan beasiswa dari sebuah perusahaan swasta. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu dan punya gaji yang lumayan. Aku pun bermaksud mengajak Ibu tinggal di Amerika untuk menikmati hidup. Tetapi Ibu yang baik hati, bermaksud tak ingin menyusahkan anaknya, ia berkata kepadaku : “Aku tidak biasa tinggal di negara orang” ---KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH.
Setelah semakin tua, Ibu terkena kanker usus dan harus dirawat di rumah sakit, aku punsegera pulang untuk menjenguk Ibunda tercinta. Aku melihat Ibu terbaring lemah di ranjang setelah menjalani pembedahan. Ibu kelihatan tua sekali, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyumnya agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat jelas betapa penyakit itu menyiksa Ibuku sehingga terlihat lemah dan kurus kering. Aku menatap Ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku pedih sekali melihat Ibuku dalam keadaan seperti ini. Tetapi Ibu yang tegar berkata : “Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan” ---KEBOHONGAN IBU YANG KE DELAPAN.
Setelah mengucapkan kebohongannya yang ke delapan, Ibuku tercinta menutup matanya untuk terakhir kalinya.
Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin mengucapkan : “Terima kasih Ibu..!” Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelpon Ayah Ibu kita ? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu untuk berbincang-bincang dengan Ayah Ibu kita ? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan Ayah dan Ibu kita kesepian. Kita selalu lupa akan Ayah dan Ibu yang ada di rumah. Jika dibandingkan pasangan hidup kita, kita pasti lebih peduli dengan pasangan kita. Buktinya, kita selalu risau akan kabar pasangan kita, apakah dia sudah makan atau belum ? apakah dia bahagia di samping kita ?

Namun apakah kita semua pernah merisaukan kabar dari orang tua kita ? Risau apakah orang tua kita sudah makan atau belum ? Risau apakah orang tua kita bahagia atau tidak ?  Apakah hal ini benar ? Kalau ya, cobalah renungkan kembali… Di waktu kita masih punya kesempatan untuk membalas budi orang tua kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata “MENYESAL” di kemudian hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar