[Toko Makmur Sentosa] | [tutup]
PASAR HOLISTIK: Sederhana dalam bicara

Jumat, 13 April 2012

Sederhana dalam bicara


Kita punya dua telinga dan hanya satu lidah
agar kita dapat mendengar lebih banyak dan berbicara lebih sedikit.
– Deogenes –

     Seorang karyawan yang telah lama bekerja di sebuah perusahaan dan belum punya jabatan tinggi, sedang makan siang hanya nasi bungkus. Temannya yang hidup mewah karena suka menjilat atasannya berkata : “Jika kamu mau belajar menjilat atasan, maka kamu tidak akan hanya makan nasi bungkus saja “. Si karyawan itu menjawab “Jika kamu sudah belajar makan nasi bungkus saja, maka kamu tidak perlu menjilat atasan.”
       Karyawan itu benar-benar teguh dalam pendiriannya yang benar, sangat jarang ada yang seperti itu, biasanya saat ada godaan, pasti akan banyak yang melakukan seperti karyawan penjilat itu.
        Kata-kata yang enak terdengar untuk mempengaruhi orang lain, pantas diragukan nilainya dan lebih sering membawa hasil yang buruk. Tidak mengatakan apa yang tidak benar adalah dasar dari perbuatan benar.
        Seseorang yang sederhana dalam berbicara adalah mereka yang tidak banyak bicara. Ia hanya akan berbicara seperlunya. Ia menghindari kegemaran bergosip dan omong kosong. Bila kita suka menyebarkan gosip yang kita dengar dari orang lain, maka itu berarti kita membuang jasa dan kebajikan kita sendiri.
      
Tidak mengatakan sesuatu yang tidak benar adalah dasar dari kebajikan. Ada pepatah yogi tibet yang mengatakan : “Banyak bicara itu merupakan sumber bahaya; dalam kesunyian, nasib buruk terhindari. Beo yang banyak bicara terkurung dalam sangkar, sementara burung-burung yang tidak dapat bicara terbang dengan bebasnya.” Jika kita semakin banyak bicara, maka semakin besar pula resiko kesalahan yang dibuat.
      Ada sebuah kisah nyata yang dikisahkan oleh master Sheng Yen Lu, tentang seorang pemuda yang mengalami suatu penyakit yang tidak sembuh-sembuh, sampai akhirnya setelah dilihat secara spiritual oleh master Sheng Yen Lu, ternyata ada roh seorang wanita yang menempel pada badan pemuda itu dan roh ini mau balas dendam atas kematiannya dengan menganggu si pemuda agar sakit-sakitan.
        Ternyata dahulunya si pemuda itu suka mengejek dan mengosipkan tetangganya seorang perawan tua yang belum menikah, dan karena wanita itu tidak tahan akan gosip yang dibuat oleh si pemuda itu, lalu bunuh diri dan rohnya menuntut balas pada si pemuda itu.
        Maka dari itu, kita seharusnya berhati-hati dalam ucapan kita, jangan suka menghina atau menjelek-jelekan orang lain, walaupun itu musuh kita. Lebih baik berdiam diri, daripada menimbulkan rasa dendam dan kebencian dari orang-orang yang kita gosipkan, karena seperti pepatah “lidah itu bisa setajam silet yang menimbulkan luka batin yang tidak sembuh-sembuh
       Apakah ini berarti kita tidak boleh bicara ? Tentu saja bukan itu maksudnya, kita boleh saja bicara, tapi bicaralah yang bermanfaat pada saat yang tepat dan situasi yang pas pula. Daripada banyak bicara yang tidak bermanfaat dan membuat orang marah atau benci, lebih baik sepatah kalimat yang bermanfaat dan memberikan kedamaian bagi pendengarnya. Inilah yang disebut kesederhanaan dalam berbicara.
Semoga semua makhluk berbahagia :-)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar